Rabu, 23 Mei 2012

Moral Mahasiswa, Moral Bangsa


Ada pepatah yang bilang “Negara berada di tangan anak-anak muda”, entah dari mana kalimat itu berasal namun yang jelas kalimat itu adalah kalimat yang mengandung banyak makna merepresentasekan keinginan bangsa yang begitu kuat menaruh harapan kepada para generasi muda. Namun mari kita perhatikan kondisi generasi muda hari ini:

“minat baca tulis rendah, syahwat kala diskusi lemah, betah nongkrong kuliah bolong, berlagak sombong otak kosong, disaat lelah cepat jenuh, bila disuruh suka ngeluh, bosan jika serius nyaman bila malas, kurang-ajar habis sopan-santun tipis, sekali-sekali ke perpustakaan berkali-kali ke hiburan, rajin pangkal bosan malas pangkal aman, boros ber-lawan hemat ber-kawan” (Studium General, gedung PKK :2009).



Tentu ini kondisi yang sangat memperihatinkan buat kita semua. Coba kita bandingkan dengan semangat para pejuang kita dengan kondisi yang serba terbatas dimana akses informasi tidak secepat sekarang mampu melakukan berbagai tindakan-tindakan besar yang sampai hari ini bisa kita rasakan manfaatnya. Dalam buku R.E.Elson yang di kutip oleh Hamdan di gambarkan bahwa lahirnya tindakan-tindakan besar oleh generasi muda masa kemerdekaan di semangati oleh adanya tujuan yang sama “Kesamaan pengalaman rasa “sama-sama ditindas” (realitas saat itu) melahirkan kekuatan pada diri: Douwes Dekker, Soewardi Suryaningrat dan Tjicpto Mangoenkoesoemo untuk mendirikan Indishe Partij (IP, Partai Hindia) 1912 bervisi “Hindia Merdeka” (visi bersama)…. Sebelumnya juga pd thun 1908 didirikan BU oleh Wahidin Sudirohusodo dan SI (1911) oleh R.M Tirtoadisuryo. Sesudahnya muncul Soekarno, M. Hatta , Syahrir, Agus Salim, Sukiman, M. Natsir dll” (Asal Usul Gagasan Indonesia, R.E.Elson: 2008)



Ketiadaan tujuan itulah yang menyebabkan kita berada dalam krisis yang menyebabkan kita buta dengan visi. mau kemana dan untuk apa sehingga tujuan kita menjadi tidak jelas disorientasi. Dalam perspektif yang lebih visioner kita di tuntut untuk mampu melihat berbagai macam hal yang tidak ada di depan mata kita dengan tujuan-tujuan yang jelas dan pasti tentunya kita akan berjalan menuju tujuan-tujuan pasti tersebut. Sehingga dalam tindak aktifitas keeharian tidak ada waktu yang terbuang sia-sia “jangan biarkan hari ini berlalu tanpa ada kebaikan yang kita goreskan untuk kehidupan yang penuh makna” {Ayak, Via SMS}



sebagai mahasiswa yang di labeli dengan nama yang cukup prestiius sebagai “Agen of change agen, of social control” harus mampu mempertnagungjawabkan nama-nama tersebut sebagai amanah bangsa buat kita. Sediktinya ada dua hal yang harus ada dalam diri para generasi muda{mahasiswa} yaitu sikap etis dan akademis. Etis menunjukkan kesempurnaan sikap dan budi, sebagai manusia yang nantinya akan mempertanggungjawabkan pebuatannya. akademis menunjukkan kapasitas intelektual kita sebagai insane pembaharu yang nantinya akan melahirkan inovasi-inovasi baru. Etis tidak bisa berjalan sendiri begitu juga akademis haarus secara simultan dan beriringan. Kapasitas intelektul seseorang akan benar-benar di rasakan manfaatnya jika standar-standar yang di pakai adalah standar etika,bisa di bayangkan andai saja di dunia ini banyak orang-orang cerdas namun tidak memperhatikan etika sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari akademis maka dunia akan hancur, tinndak kejahatan dengan taraf yang lebih hebat akan melanda dunia korupsi meraja lela dan akibat-akibat fatal lainnya.

yang jadi pertanyaan kita kemudian adalah bagaimana cara mengisi dua medium (etis-akademis)tersebut?



Pertama, lewat membaca, diskusi, mengikuti seminar, mengikuti diklat-diklat, mengikuti open house dan lain-lain. Dengan demikian maka otak akan terisi yang nantinya akan memunculkan sikap kritis, objektif, ilmiah, dan rasional.



Kedua, lewat interaksi dengan berbagai komunitas, berkomunikasi dengan berbagai macam kultur tentu untuk mendapatkan semua itu di butuhkan medium sebagai tempat ekspresi diri karma bergaul hanya dengan teman-teman sekelas saja tidak cukup seperti organisasi dan lain-lain dengan demikian maka akan menyebabkan watak ktia terasah[kepekaan social empati] setelah watak kita terasah akan memunculkan sikap jujur, sabar, sopan santun, dan mampu menghargai orang lain.



Sebagai langkah yang harus di tempuh dalam mengisi kedua medium tersebut antara lain; memiliki buku sesuai disiplin ilmu professional knowledge, buku-buku umum diluar disiplin ilmu public knowledge, terdaftar sebagai anggota perpustakaan kampus dan daerah, membuat kelompok kecil sebagai sarana berlaga ide dan gagasan, setiap saat terampil bertutur kata yang baik dan benar, menaati aturan, bekerjasama teamwork/cooperative, mendengar dan didengarkan, tidak menyalahkan orang lain dan merangkul kesalahan. Adakah kedua medium tersebut dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa ? ……………….





Selamat Menjawab……………









NOTE: Memori indah saat-saat masih di komisariat......



Penulis adalah ketua umum

HMI Komisariat Tarbiyah IAIN Mataram



Dasan agung perigi 07/05/10 pukul 13:05

Tidak ada komentar: